Kamis, 20 Februari 2020

Imunoterapi: Setitik Harapan Baru Bagi Survivor Kanker

sumber: alodokter.com

Kanker rasanya sudah tak lagi terdengar asing di telinga masyarakat dunia. Penyakit yang satu ini memang telah menelan begitu banyak korban, tercatat ada 9,6 juta orang meninggal dunia setiap tahunnya akibat kanker. Pada akhirnya kanker pun menjadi momok menyeramkan bagi banyak orang.
Kanker merupakan penyakit yang ditandai dengan ditemukannya sel abnormal yang berkembang di luar kendali. Sel abnormal tersebut juga memiliki kemampuan untuk masuk ke dalam jaringan tubuh yang normal melalui aliran darah dan menghancurkannya.
Sebenarnya kebanyakan dari jenis kanker ini sangat mungkin untuk disembuhkan, terutama jika diketahui sejak dini. Namun, kebanyakan kanker tidak menunjukkan gejala yang berarti di awal kemunculannya sehingga kebanyakan penyitas kanker baru menyadari penyakitnya ketika berada di stadium akhir.

Penyebab

Pada dasarnya sel kanker muncul karena adanya kerusakan DNA pada sel normal. Kerusakan tersebut mengakibatkan sel normal yang seharusnya telah mati tetap tumbuh sehingga membentuk sel baru yang tidak normal.
Kerusakan DNA tersebut kebanyakan disebabkan oleh faktor eksternal seperti kebiasaan merokok, sering terkena paparan sinar matahari dan lain sebagainya. Ada pula teori yang menyebutkan bahwa DNA yang rusak tersebut dapat diturunkan dari orang tua kepada sang anak. Namun, sebenarnya sampai saat ini pun belum diketahui secara pasti penyebab dari munculnya sel kanker tersebut.

Sistem imun dan sel kanker

Sistem imun merupakan salah satu sistem dalam tubuh manusia yang berfungsi untuk mendeteksi serta menghancurkan sel asing yang ada di dalam tubuh. Tugas mendekteksi dan menghancurkan tersebut dipegang oleh sel T yang bekerja dengan tiga tahapan yaitu mencari hal-hal yang berbahaya bagi tubuh, memindai seluruh sel yang terdeteksi untuk mengetahui apakah sel tersebut merupakan sel normal atau tidak dan menghancurkan sel yang terdeteksi sebagai sel abnormal.
Jadi, pada dasarnya tubuh manusia sudah memiliki siklus imunitas atau kekebalan terhadap kanker. Namun, sel kanker pun rupanya mampu mengelabuhi sel T dengan menggunakan PD-L1.
PD-L1 merupakan salah satu jenis protein yang terdapat pada sel kanker. Keberadaan PD-L1 tersebut menjadi faktor penghalang (immune checkpoint) sehingga sel T tidak mendeteksi sel kanker sebagai sel yang abnormal.

Apa itu imunoterapi?

Salah satu metode yang kini sedang ramai dibicarakan sebagai salah satu metode ampuh untuk menangani kanker stadium lanjut adalah imunoterapi.
Seperti yang sudah diketahui bahwa pada dasarnya tubuh telah memiliki kekebalan tersendiri terhadap sel kanker. Akan tetapi sistem kekebalan tersebut tidak lagi dapat bekerja karena adanya PD-L1 pada permukaan sel kanker. Pengobatan imunoterapi kanker ini bertujuan untuk mengembalikan fungsi kekebalan tubuh terhadap sel kanker dengan cara memblokir ikatan PD-L1 dengan protein lain sehingga sel kanker dapat dikenali oleh sel T sebagai sel abnormal berbahaya.
Pengobatan kanker menggunakan imunoterapi pun telah banyak digunakan untuk menangani kanker karena metode ini dianggap lebih efektif membunuh kanker dibandingkan dengan cara lain seperti radiasi ataupun kemoterapi. Selain itu imunoterapi juga memiliki efek samping yang lebih kecil jika dibandingkan dengan metode pengobatan kanker lainnya. Imunoterapi juga dapat memperkecil kemungkinan kanker muncul kembali karena metode ini dapat memicu imunomemori yang memungkinkan sistem imun mengingat sel kanker sehingga akan segera dimusnahkan jika muncul kembali.

Benarkah 100% aman?

Setiap metode pengobatan tentu memiliki sisi positif dan negatif, tak terkecuali metode imunoterapi ini. Walaupun dijamin kemanannya, tetapi risiko dan efek samping tetap dapat dirasakan. Beberapa efek samping yang sering dialami adalah nyeri, bengkak, gatal dan ruam pada area suntikan.
Selain efek samping yang dirasakan, imunoterapi juga memiliki beberapa risiko lain yang mungkin muncul seperti berpotensi merusak organ-organ lain serta hasil pengobatan yang tidak selalu cepat, tergantung pada respon dari masing-masing orang.
Kehadiran imunoterapi memang menjadi harapan baru bagi para penyitas kanker untuk terbebas dari penyakit mematikan tersebut. Namun, perlu diingat bahwa imunoterapi tidak 100% tanpa efeksamping dan risiko. Oleh karena itu, sangat perlu untuk tetap berkonsultasi dengan dokter mengenai metode pengobatan yang paling tepat dilakukan.

Jumat, 20 Februari 2015

Terapi Nutrisi untuk Penderita Kanker

Nutrisi adalah proses dimana tubuh manusia menggunakan makanan untuk membentuk energi, mempertahankan kesehatan, pertumbuhan dan untuk berlangsungnya fungsi normal setiap organ dan jaringan tubuh. Kekurangan nutrisi (malnutrisi) dan cachexia memberikan efek yang tidak diinginkan terhadap struktur dan fungsi hampir semua organ dan sistem tubuh. Malnutrisi maupun cachexia pada penderita kanker maupun penyakit kronis lainnya dapat meningkatkan morbiditas (angka kesakitan) dan mortalitas (angka kematian) serta menurunkan kualitas hidup penderita. Penderita dengan malnutrisi maupun cachexia sering tidak dapat mentoleransi terapi berbagai macam terapi termasuk radiasi khemoterapi.
Malnutrisi adalah hilangnya/ penurunan berat badan diatas 10% atau berat badan kurang dari 80% BB ideal, dalam kurun waktu 3 bulan, sedangkan cachexia adalah keadaan malnutrisi yang ditandai dengan anorexia (tidak adanya keinginan untuk makan dan menunjukkan bahwa seseorang tidak mempunyai ketertarikan terhadap semua makananmenyebabkan distress psikologis, perubahan dalam komposisi tubuh, gangguan dalam metabolisme karbohidrat, lemak dan protein, cairan jaringan, keseimbangan asam basa, kadar vitamin dan elektrolit, penurunan berat badan, muscle wasting, asthenia, depresi, nausea kronik dan anemia yang menyebabkan stress psikologis, perubahan dalam komposisi tubuh, gangguan dalam metabolisme karbohidrat, lemak dan protein, cairan jaringan, keseimbangan asam basa, kadar vitamin dan elektrolit.
Tingkat malnutrisi pada penderita kanker tergantung pada jenis tumor, stadium, organ yang terlibat, terapi antikanker, kondisi non malignan yang menyertainya seperti diabetes melitus, penyakit saluran cerna dan lain-lain. Pada penelitian multisenter terhadap 12 jenis kanker, prevalensi penurunan berat badan (BB) sebesar 31%-40% pada penderita kanker payudara, kanker hematologik dan sarcoma; 54%-64% pada penderita
kanker colon, prostate dan paru, serta > 80% pada penderita dengan kanker pancreas dan lambung. Terapi kanker juga berpengaruh terhadap status nutrisi penderita. Pada suatu penelitian didapatkan > 40% penderita yang mendapat terapi kanker (bedah, kemoterapi dan radiasi) mengalami malnutrisi.
Penentuan status nutrisi pada penderita kanker didasarkan oleh dua jenis pemeriksaan yaitu pemeriksaan fisik yang meliputi data antropometri dan pola makan serta data laboratorium yang meliputi kadar protein serum.
kebutuhan makro nutrien bagi penderita kanker disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien, karena kebutuhan setiap individunya berbeda, tergantung kondisi fisik dan stadium kanker yang diderita. sedangkan asupan mikronutrien sangat diperlukan oleh penderita kanker sebagai antioksidan yang menangkal radikal bebas dan menghambat pertumbuhan kanker itu sendiri.

Minggu, 25 Januari 2015

Masalah Gizi Remaja

Masa remaja menurut WHO adalah antara 10-24 tahun, sedangkan menurut Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 hingga 17 atau 18 tahun). Masa remaja atau adolescence adalah waktu terjadinya perubahan-perubahan yang berlangsungnya cepat dalam hal pertumbuhan fisik,kognitif, dan psikososial atau tingkah laku. Usia remaja merupakan usia peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Pada masa ini terjadi kematangan seksual dan tercapainya bentuk dewasa karena pematangan fungsi endokrin. Pada saat pematangan fisik, juga terjadi perubahan komposisi tubuh.
Masalah gizi yang terjadi pada remaja umumnya disebabkan oleh satu sumber utama yaitu pola makan yang kurang tepat. Pola makan yang kurang tepat secara garis besar dipengaruhi dua hal, antara lain faktor lingkungan dan faktor personal atau individu dari remaja itu sendiri.
Perilaku makan yang kurang tepat dapat membawa dampak negative terhadap kesehatan atau status gizi remaja. Berikut beberapa masalah gizi yang dapat dialami oleh remaja.
1.   Obesitas
Obesitas didefinisikan sebagai suatu kelainan atau penyakit yang ditandai dengan
penimbunan jaringan lemak tubuh secara berlebihan. Untuk menentukan obesitas diperlukan kriteria yang berdasarkan pengukuran antropometri berupa pengukuran BB, TB ataupun LLA maupun pemeriksaan laboratorik seperti pemeriksaan kadar kolesterol, LDL, HDL maupun trigliserid dalam darah.
Kelompok anak dan remaja merupakan kelompok rawan terjadinya obesitas. Obesitas pada masa anak berisiko tinggi menjadi obesitas dimasa dewasa dan berpotensi mengalami penyakit metabolik dan penyakit degeneratif dikemudian hari.
Beberapa factor penyebab obesitas pada remaja dan anak-anak diantaranya factor genetic yang cukup berperan dalam kejadian obesitas pada anak. Seorang anak dengan kedua orang tua yang obesitas memiliki resiko 80% juga akan menderita obesitas. Selain factor genetic, factor lingkungan seperti gaya hidup, status social ekonomi, maupun letak geografis juga sangat berpengaruh pada kejadian obesitas pada anak dan remaja.
Prevalensi obesitas anak saat ini mengalami peningkatan di berbagai negara tidak terkecuali Indonesia. Tingginya prevalensi obesitas anak disebabkan oleh pertumbuhan urbanisasi dan perubahan gaya hidup seseorang. Menurut WHO, satu dari 10 (sepuluh) anak di dunia mengalami kegemukan. Prevalensi yang cenderung meningkat baik pada anak maupun orang dewasa sudah merupakan peringatan bagi pemerintah dan masyarakat bahwa obesitas dan segala implikasinya memerlukan perhatian khusus.
Sejak tahun 1970 hingga sekarang, kejadian obesitas meningkat 2 (dua) kali lipat pada anak usia 2-5 tahun dan usia 12-19 tahun, bahkan meningkat tiga (3) kali lipat pada anak usia 6-11 tahun. Di Indonesia, prevalensi obesitas pada anak usia 6-15 tahun meningkat dari 5% tahun 1990 menjadi 16% tahun 2001(soegondo, 2008).

2.   Kurang Energi Kronis
Kurang Energi Kronis (KEK) adalah suatu keadaan kekurangan makanan dalam waktu yang lama sehingga menyebabkan ukuran Indeks Massa Tubuhnya (IMT) di bawah normal (kurang 18,5 untuk orang dewasa) (persagi, 2009). Kurang energy kronis merupakan kondisi dimana seorang remaja mengalami kekurangan makanan yang berlangsung menahun yang mengakibatkan gangguan kesehatan dengan tanda-tanda seperti lemah dan pucat.
Pada remaja badan kurus atau disebut Kurang Energi Kronis (KEK) tidak selalu berupa akibat terlalu banyak olah raga atau aktivitas fisik. Pada umumnya KEK pada remaja terjadi akibat makan terlalu sedikit. Remaja perempuan yang menurunkan berat badan secara drastis erat hubungannya dengan faktor emosional seperti takut gemuk seperti ibunya atau dipandang lawan jenis kurang seksi.
Remaja dengan kurang energy kronis yang tidak ditanggulangi dengan baik akan memiliki kecenderungan melahirkan bayi yang BBLR jika hamil. Dan mengakibatkan ganguan metabolisme pada masa balita sang anak yang nantinya akan menimbulkan resiko KEK saat sang anak menginjak masa remaja.
Kekurangan Energi Kronis (KEK) dijumpai pada WUS usia 15-49 sebesar 24,9% pada tahun 1999 dan menurun menjadi 16,7% pada tahun 2003. Pada umumnya proporsi WUS dengan risiko KEK cukup tinggi pada usia muda (15-19 tahun), dan menurun pada kelompok umur lebih tua.

3.   Anemia defisiensi besi
Anemia karena kurang zat besi adalah masalah yang paling umum dijumpai
terutama pada perempuan. Zat besi diperlukan untuk membentuk sel-sel darah merah, dikonversi menjadi hemoglobin, beredar ke seluruh jaringan tubuh, berfungsi sebagai pembawa oksigen. Remaja perempuan membutuhkan lebih banyak zat besi daripada laki-laki. Anemia, terjadi pula karena peningkatan kebutuhan pada tubuh seseorang seperti pada saat menstruasi, kehamilan, melahirkan, sementara zat besi yang masuk sedikit.
Agar zat besi yang diabsorbsi lebih banyak tersedia oleh tubuh, maka diperlukan bahan makanan yang berkualitas tinggi. Seperti pada daging, hati, ikan, ayam, selain itu bahan maknan yang tinggi vitamin C membantu penyerapan zat besi.
Anemia pada anak sekolah dapat menyebabkan anak menjadi lemah, kurang nafsu makan, menururnnya sistim imun tubuh serta gangguan pada regenerasi sel. Selain itu, anemia pada remaja juga menurunkan fungsi kognitif dan berpengaruh pada psikis serta prilaku. Hai ini dapat mengakibatkan terjadinya penurunan prestasi belajar dan rendahnya kemampuan intelektualitas anak hingga dapat berdampak pada kualitas sumberdaya manusia di Negara tersebut.
Anemia defisiensi besi adalah jenis anemia yang sering dijumpai. Diperkirakan 25% dari total penduduk dunia menderita anemia jenis ini. Penyakit ini cenderung diderita oleh penduduk di Negara-negara sedang berkembang daripada Negara maju.diperkirakan 36% populasi di Negara berkembang menderita anemia jenis ini, sedangkan di Negara maju hanya diperkirakan sekitar 8% dari total penduduknya menderita anemia jenis ini. Di Indonesia prevalensi nemia pada remaja dan anak sekolah masih menunjukkan angka yang tinggi. Sekitar 37% dari total populasi di Indonesia. 

Infeksi Saluran Kemih


Sistem perkemihan atau sistem urinaria, adalah suatu sistem dimana terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih di pergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih). Saluran kemih terdiri dari beberapa organ yang terdiri dari ginjal, pelvis ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra.

Infeksi saluran kemih merupakan suatu keadaan patologis yang sudah sangat lama dikenal. Infeksi ini juga merupakan penyakit infeksi bakterial tersering dan bertanggung jawab terhadap morbiditas khususnya pada wanita dalam kelompok usia seksual aktif.
Patofisiologi terjadinya infeksi saluran kemih dapat diakibatkan oleh adanya bakteri patogen yang masuk ke dalam saluran kemih. Mikroorganisme yang biasanya menjadi penyebab dari terjadinya infeks saluran kemih antara lain Pseudomonas, Proteus, Klebsiella, Escherichia Coli, Enterobacter, staphylococcus epidemidis dan enterococci. Mikroorganisme tersebut dapat masuk dalam saluran kemih yaitu melalui jalur asending ataupun hematogen.
Secara Asending, masuknya mikroorganisme dalam kandung kemih, antara lain dikarenakan adanya faktor anatomi dimana pada wanita uretra yang dimiliki lebih pendek dari pada laki- laki sehingga insiden terjadinya ISK lebih tinggi, faktor tekanan urin saat miksi, kontaminasi fekal, Pemasangan alat kedalam traktus urinarius (pemeriksaan sistoskopik, pemakaian kateter) maupun adanya dekubitus yang terinfeksi.
Secara Hematogen, biasanya infeksi saluran kemih terjadi pada pasien yang sistem imunnya rendah sehingga mempermudah penyebaran infeksi secara hematogen. Ada beberapa hal yang mempengaruhi struktur dan fungsi ginjal sehingga mempermudah penyebaran hematogen, yaitu adanya bendungan total urin yang mengakibatkan distensi kandung kemih, bendungan intrarenal akibat jaringan.

Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat mengakibatkan distensi yang berlebihan sehingga menimbulkan nyeri, keadaan ini mengakibatkan penurunan resistensi terhadap invasi bakteri. Residu kemih dalam vesika urinaria dapat menjadi media pertumbuhan bakteri yang selanjutnya akan mengakibatkan gangguan fungsi saluran kemih, kemudian keadaan ini secara hematogen menyebar keseluruh traktus urinarius. Selain itu beberapa hal yang menjadi predisposisi ISK antara lain adanya obstruksi aliran kemih proksimal yang mengakibatkan penimbunan cairan bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter yang disebut sebagai hidronefroses. Penyebab umum obstruksi adalah jaringan parut pada ginjal, batu neoplasma dan hipertropi prostat yang sering ditemukan pada laki-laki dengan usia diatas 60 tahun.
Penyakit infeksi pada saluran kemih dapat diklasifikasikan sebagai brikut:
a.       Uretritis
Merupakan infeksi saluran kemih bagian terluar yang dapat disebabkan oleh penyakit menular seksual ataupun kuman penyebab infeksi saluran kemih. Penyebab tersering uretritis adalah gonorea dan klamidia disusul dengan penyakit menular seksual lainnya. Penyebab lainnya adalah iritasi akibat bahan kimia (sabun, iosion, jel kontrasepsi), lecet akibat gesekan mekanis, atau akibat penyempitan uretra.
Uretritis biasanya ditandai dengan adanya gejala seperti , mukosa memerah dan edema, terdapat cairan eksudat yang purulent, ada ulserasi pada uretra, adanya rasa gatal yang menggelitik, good morning sign, adanya nanah awal miksi, nyeri pada awal miksi, kesulitan untuk memulai miksi, nyeri pada bagian abdomen.

b.      Sistitis
Merupakan infeksi pada kandung kemih yang terjadi akibat perjalaran infeksi dari uretra. Sistitis umumnya terjadi pada pria dengan kelainan anatomis gangguan pengosongan kandung kemih atau pada mereka yang dipasang kateter (selang berkemih).
Sistitis ditandai dengan adanya gejala seperti disuria (nyeri waktu berkemih), peningkatan frekuensi berkemih, perasaan ingin berkemih, adanya sel-sel darah putih dalam urin, nyeri punggung bawah atau suprapubic dan demam yang disertai adanya darah dalam urin pada kasus sistitis yang parah.

c.       Pielonefritis
Infeksi pada ginjal yang terutama terjadi akibat infeksi yang menjalar dari saluran kemih bagian bawah. Namun infeksi dapat juga terjadi melalui kuman yang terbawa di dalam darah. Infeksi pada ginjal dapat bersifat fatal, dan juga merupakan salah satu pencetus terbentuknya batu ginjal. Pielonefritis akut biasanya memperlihatkan gejala seperti demam, menggigil, nyeri pinggang, dan disuria.

Factor resiko terjadinya infeksi saluran kemih adalah sebagai berikut:
a.       Jenis kelamin (wanita lebih berisiko)
b.      Kebiasaan seksual,
c.       Penggunaan beberapa jenis alat kontrasepsi seperti kondom berbentuk diafragma
d.      Usia (orang yang lebih tua lebih rentan mengalami infeksi, anak-anak juga dapat mengalaminya)
e.       Riwayat keluarga mengalami ISK
f.       Diabetes atau kondisi kronis lainnya yang mempengaruhi sistem imun
g.      Penggunaan kateter yang berkepanjangan (sebuah selang dimasukkan dalam kandung kemih untuk mengeluarkan urin)
h.      Batu ginjal yang kambuh

Pada usia lanjut infeksi saluran kemih dibedakan menjadi dua jenis yaitu :
a.       ISK Uncomplicated (simple)
ISK sederhana yang terjadi pada penderita dengan saluran kencing tak baik, anatomic maupun fungsional normal. ISK ini pada usia lanjut terutama
mengenai penderita wanita dan infeksi hanya mengenai mukosa superficial kandung kemih.
b.      ISK Complicated
Sering menimbulkan banyak masalah karena sering kali kuman penyebab sulit diberantas, kuman penyebab sering resisten terhadap beberapa macam antibiotika, sering terjadi bakterimia, sepsis, dan shock.
ISK ini terjadi bila terdapat keadaan- keadaan sebagai berikut :
1.      Kelainan abnormal saluran kencing, misalnya batu, reflex vesiko uretral obstruksi, atoni kandung kemih, paraplegia, kateter kandung kencing menetap dan prostatitis.
2.      Kelainan faal ginjal :GGA maupun GGK
3.      Gangguan daya tahan tubuh

4.      Infeksi yang disebabkan karena organisme virulen seperti prosteus spp yang memproduksi urease.

Selasa, 13 Mei 2014

Pengaruh lingkungan fisik terhadap pertumbuhan mikroorganisme

LAPORAN PRAKTIKUM
ACARA 7  PENGARUH LINGKUNGAN FISIK TERHADAP PERTUMBUHAN MIKROORGANISME

logo-ums.jpg



Disusun Oleh :
Kelompok : 3                                            Shif    : A
PJ              Izzatun Nadia                       (J310120009)
Anggota    Cahyani  Windrasari            (J310120003)



PROGRAM STUDI GIZI STRATA SATU
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014


A.    Judul Praktikum
Pengaruh lingkungan fisik terhadap pertumbuhan mikroorganisme

B.     Tujuan
Mengetahui pengaruh faktor lingkungan atau fisik (konsentrasi gula dan garam) terhadap pertumbuhan mikroorganisme

C.     Pendahuluan
1.      Latar belakang
Praktikum ini dilakukan guna mengetahui pengaruh konsentrasi larutan gula dan garam serta pengaruh paparan waktu terhadap pertumbuhan mikroorganisme.

2.       Tinjauan  teori
Mikroorganisme terdapat  di berbagai tempat seperti tanah, debu, air, udara, kulit dan selaput lendir. Mikroorganisme dapat berupa bakteri, fungi, protozoa dan lain-lain. Mikroorganisme mudah terhembus udara dan menyebar ke mana-mana karena ukuran selnya kecil dan ringan (susilowati dan shanty, 2001). Mikroba termasuk ke dalam kelompok jasad hidup yang sangat peka terhadap adanya perubahan pada lingkungannya, sehingga dengan adanya perubahan yang kecil di dalam temperatur atau cahaya misalnya akan cepat mempengaruhi kehidupan dan aktivitasnya. Tetapi mikroba juga termasuk kelompok jasad hidup yang dengan cepat dapat menyesuaikan diri dengan adanya perubahan lingkungan (Suryawiria, 1996 dalam rikhal, 2011).
Pertumbuhan mikroba pada umumnya sangat tergantung dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan, perubahan faktor lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan fisiologi. Hal ini dikarenakan, mikroba selain menyediakan nutrient yang sesuai untuk kultivasinya, juga diperlukan faktor lingkungan yang memungkinkan pertumbuhan optimumnya. Mikroba tidak hanya bervariasi dalam persyaratan nutrisinya, tetapi juga menunjukkan respon yang berbeda – beda. Untuk berhasilnya kultivasi berbagai tipe mikroba, diperlukan suatu kombinasi nutrient serta faktor lingkungan yang sesuai (Pelczar dan Chan, 2006 dalam jumaing,  2012).
Pertumbuhan bakteri pada umumnya akan dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Pengaruh faktor ini akan memberikan gambaran yang memperlihatkan peningkatan jumlah sel yang berbedadan pada akhirnya memberikan gambaran pula terhadap kurva pertumbuhannya (Darkuni, 2001 dalam jumaing 2012).

D.    Tinjauan Pustaka
Pertumbuhan mikroba pada umumnya sangat tergantung dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang dapat mengakibatkan perubahan morfologi dan fisiologi. Hal ini dikarenakan mikroba selain membutuhkan nutrient yang sesuai untuk kultivasinya, juga diperlukan faktor lingkungan yang memungkinkan pertumbuhan optimumnya (pelczar dan chan, 2006 dalam jumaing, 2012). Beberapa golongan sangat tahan terhadap perubahan lingkungan, sehingga dapat menyesuaikan diri dengan kondisi baru. Adapula golongan mikroba yang sangat peka terhadap perubahan lingkungan sehingga tidak dapat menyesuaikan diri (suharni, 2009).
Kehidupan mikroorganisme pada umumnya sangat tergantung pada faktor lingkungan. Faktor lingkungan itu meliputi faktor abiotik dan faktor biotik. Faktor abiotik adalah faktor luar seperti suhu, pH, tekanan osmose dan lain-lain. Sedangkan faktor biotik adalah dari mikroorganisme itu sendiri (M. Natsir Djide, 2004).
1.      Suhu
Suhu merupakan salah satu faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan mikroba. Setiap mikroba mempunyai kisaran suhu dan suhu optimum tertentu untuk pertumbuhannya. Berdasarkan kisaran suhu pertumbuhan, mikroba dibedakan atas tiga kelompoksebagai berikut:
a.       Psikrofil, suhu pertumbuhan antara 0 oC sampai 20oC
b.      Mesofil, suhu pertumbuhan antara 20 oC sampai 45 oC
c.       Termofil, suhu pertumbuhan diatas 45 oC
Kebanyakan mikroba perusak pangan merupakan mikroba mesofil, yaitutumbuh baik pada suhu ruangan atau suhu kamar. Bakteri patogen umumnyamempunyai suhu optimum pertumbuhan sekitar 37 oC yang juga adalah suhu tubuh manusia. Oleh karena itu suhu tubuh manusia merupakan suhu yang baik untuk pertumbuhan beberapa bakteri pathogen (Dwijoseputro, 1995).
2.      pH
Secara alami, kebanyakan bahan makanan (daging, ikan, dan suyuran) bersifat agak asam, sedangkan sebagian lainnya (sebagian besar buah-buahan) cukup asam, tetapi putih telur bersifat basa. Semakin rendah nilai pH, semakin efektif pengaruh asam organik sebagai pengawet, meskipun pertumbuhan setiap jasad renik dalam makanan mempunyai nilai pH optimum, minimum, dan maksimum. Meskipun demikian, pH tidak jarang berinteraksi dengan parameterlain dalam makanan dengan menghambat pertumbuhan. pH makanan juga berdampak terhadap kemampuan daya penghancur bakteri oleh pemanasan jika pH rendah (diturunkan), jumlah panas yang dibutuhkan lebih sedikit daripada jumlah jumlah panas pada makanan dengan pH yang lebih tinggi (Mossel et al, 1995).
Mikroba umumnya menyukai pH netral yaitu pH 7. Beberapa bakteridapat hidup pada pH tinggi (medium alkalin) Apabila mikroba ditanam padamedia dengan pH 5 maka pertumbuhan didominasi oleh jamur, tetapi apabila pHmedia 8 maka pertumbuhan didominasi oleh bakteri. Berdasarkan pHnya mikrobadapat dikelompokan menjadi 3 yaitu mikroba asidofil adalah kelompok mikrobayang dapat hidup tumbuh baik pada pH 6,0 sampai 8,0, mikroba mesofil (neutrofil) adalah kelompok mikroba yang dapat hidup pada pH 5,5 sampai 8,0,dan mikroba alkafil adalah kelompok mikroba yang dapat hidup pada pH 8,4 sampai 9,5 (Brooks dkk, 1994)

3.      Tekanan osmosis
Osmosis berasal dari kata os: lubang, movea: berpindah jadi Osmosis adalah perpindahan air melalui membran permeabel selektif dari bagian yang lebih encer ke bagian yang lebih pekat. Larutan yang konsentrasi zat terlarutnya lebih 
tinggi dibandingkan dengan larutan di dalam sel dikatakan sebagai larutan 
hipertonis. sedangkan larutan yang konsentrasinya sama dengan larutan di dalam 
sel disebut larutan isotonis. Jika larutan yang terdapat di luar sel, konsentrasi zat 
terlarutnya lebih rendah daripada di dalam sel dikatakan sebagai larutan hipotonis. (Biologipedia, 2010).
Tekanan osmosis sangat erat hubungannya dengan kandungan air. Medium yang paling cocok untuk pertumbuhan  bakteri adalah medium yang isotonic terhadap isi sel bakteri (purwani dan ambarwati, 2013). Apabila mikroba diletakkan pada larutan hipertonis, maka selnya akan mengalami plasmolisis, yaitu terkelupasnya membran sitoplasma dari dinding sel akibat mengkerutnya sitoplasma. Apabila diletakkan pada larutan hipotonis, maka sel mikroba akan mengalami plasmoptisa, yaitu pecahnya sel karena cairan masuk kedalam sel, sel membengkak dan akhirnya pecah (Pratiwi, 2009)
Berdasarkan tekanan osmosis yang diperlukan mikroba dapat dikelompokkan menjadi: mikroba osmofil, yaitu mikroba yang dapat tumbuh pada kadar gula tinggi. Contohnya adalah khamir. (2) mikroba halofil, yaitu mikroba yang dapat tumbuh pada kadar garam halogen yang tinggi. Contohnya yaitu Halobacterium. (3) mikroba halodurik, yaitu kelompok mikroba yang dapat tahan (tidak mati) tetapi tidak dapat tumbuh pada kadar garam tinggi, kadar garamnya dapat mencapai 30% (Hamid, 2009).

E.     Alat dan bahan
1.      Alat
a.         Bunsen
b.        Penyemprot alcohol
c.         Ose
d.        Petridisk
e.         Incubator
f.         Rak tabung
2.      Bahan
a.       Medium NA
b.      Biakan murni (basillus licheniformis)
c.       Larutan garam (30%, 3% dan 0.3%)
d.      Larutan gula (40%, 4%, 0.4%)


F.       Cara Kerja
1.      Disterilkan meja dan tangan dengan alcohol
2.      Dinyalakan Bunsen
3.      Disiapkan alat dan bahan
4.      Dipaparkan suspensi biakan pada larutan gula (40%, 4%, 0.4%) dan garam (30%, 3% dan 0.3%)
5.      Dibuat enam juring pada cawan petri
6.      Ditanam mikroba yang ada pada masing-masing larutan pada masing-masing juring di cawan petri
7.      Dilakukan langkah yang sama setelah didiamkan setengah jam dan satu jam untuk cawan petri yang  berbeda
8.      Diinkubasi selama 2x24 jam
9.      Diamati hasilnya

G.    Hasil Praktikum
20140510_093149.jpg
20140510_093210.jpg
20140510_093233.jpg
Nol jam
Setengah jam
Satu  jam

Paparan waktu
Garam (NaCl)
Glukosa
30%
3%
0.3%
40%
4%
0.4%
0 jam
+ + +
+ + +
+ + +
+ + +
+
+ + +
0.5 jam
+ +
-
+ +
+
+ + +
+ +
1 jam
+
+
+
-
+ +
-
Table pengamatan pertumbuhan bakteri pada konsentrasi larutan berbeda terhadap paparan waktu
Larutan
0 jam
0.5 jam
1 jam
NaCl 30%
+ + + + + +
+ + + + + +
+ + + + +
NaCl 3%
+
-
+ + +
NaCl 0.3%
+ + + + +
+ + + +
+ + + +
Glukosa 40%
+ + + +
+ +
-
Glukosa 4%
+ +
+ + + + +
+ + + + + +
Gluosa 0.4%
+ + +
+ + +
-
Table pengamatan pengaruh konsentrasi berbeda terhadap pertumbuhan bakteri

H.    Pembahasan
Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh lingkungan fisik yang berupa konsentrasi larutan yang berbeda pada pertumbuhan bakteri bacillus licheniformis. Percobaan ini menggunakan dua larutan yang berbeda yaitu larutan gula dan garam dengan konsentrasi yang berbeda.
Percobaan ini dilakukan dengan cara memaparkan suspensi bakteri bacillus licheniformis pada masing-masing larutan gula dan garam. Kemudian bakteri bacillus licheniformis yang telah dipaparkan dalam masing-masing larutan ditanamkan pada media NA pada cawan petri yang telah disiapkan dan diberi juring menggunakan metode streak plate. Langkah ini dilakukan sebanyak tiga kali dengan lama waktu berbeda yaitu nol jam, tiga puluh menit dan satu jam. Kemudian diinkubasi selama 2x 24 jam dan diamati.
Setelah 2x 24jam maka pertumbuhan bakteri bacillus licheniformis pada masing-masing petri sudah dapat diamati. Ada dua jenis pengamatan yang dilakukan yaitu pengamatan pertumbuhan bakteri pada konsentrasi larutan berbeda terhadap paparan waktu dan pengamatan pengaruh konsentrasi berbeda terhadap pertumbuhan bakteri.
Pada pengamatan pertumbuhan bakteri pada konsentrasi larutan berbeda terhadap paparan waktu, yang  diamati adalah pertumbuhan bakteri pada konsentrasi larutan yang sama dengan waktu penanaman yang berbeda. Hasil dari pengamatan adalah pertumbuhan bakteri pada paparan waktu nol jam lebih banyak daripada paparan waktu tiga puluh menit dan satu jam untuk masing-masing konsentrasi larutan kecuali pada glukosa 4%.
Hal ini kemungkinan dikarenakan kurang homogen ketika melakukan pencampuran suspensi bakteri  bacillus licheniformis pada larutan. Atau kurang dalam mengambil sampel  yang akan ditanamkan pada media NA.
Pada pengamatan pengaruh konsentrasi berbeda terhadap pertumbuhan bakteri, yang diamati adalah perbedaan pertumbuhan bakteri bacillus licheniformis pada masing-masing konsentrasi larutan dalam satu petri. Hasil dari pengamatan adalah pada petri nol jam pertumbuhan paling banyak terjadi pada larutan NaCl 30% dan yang paling sedikit adalah pada larutan NaCl 3%. Pada petri tiga puluh menit pertumbuhan paling banyak terjadi pada larutan NaCl 30% dan pada larutan NaCl 3% tidak terjadi pertumbuhan. Pada petri satu jam pertumbuhan paling banyak terjadi pada larutan glukosa 4%, sedangkan pada larutan glukosa 40% dan 0.4% tidak  terjadi pertumbuhan.
Tidak tumbuhnya bakteri pada larutan tertentu mungkin dikarenakan lingkungan tersebut merupakan lingkungan hipertonis atau hipotonis bagi bakteri bacillus licheniformis hingga bakteri tersebut mengalami plasmolisis ataupun plasmoptisis. Mungkin juga terjadi akibat kurang homogen dalam mencampurkan suspensi bakteri  dalam larutan garam maupun gula. Kemungkinan juga dapat terjadi akibat terlalu sedikit dalam  mengambil sampel ketika melakukan proses penanaman.

I.       Kesimpulan
Larutan yang berbeda dengan konsentrasi yang berbeda pula berpengaruh pada pertumbuhan mikroba.

J.       Daftar Pustaka
Biologipedia. 2010. Osmosis. http://biologipedia.blogspot.com/2010/12/osmosis.html diakses pada 13 mei 2014
Brooks, dkk., 1994. Mikrobiologi Kedokteran Edisi 2. EGC: Jakarta
Dwijoseputro. 1995. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta: Djambatan.
Jumaing. 2012. Laporan mikrobiologi umum: pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan mikroba. Universitas halouleo, http://mainkanakbugis.blogspot.com/2012/12/faktor-faktor-lingkungan-yang.html diakses pada 13 mei 2014
Natsir Djide, M .2003. “Bakteriologi”. Fakultas MIPA Universitas Hasanuddin : Makassar.
Purwani, eni dan ambarwati. 2013. Modul praktikum mikrobiologi pangan. Universitas muhammadiyah Surakarta. Surakarta
Suharni, Theresia Tri dkk. 2008. Mikrobiologi Umum. Penerbit Universitas Atma Jaya. Yogyakarta.

Susilowati, ari dan shanty listiyowati. 2001. Keanekaragaman Jenis Mikroorganisme Sumber Kontaminasi Kultur In vitro di Sub-Lab. Biologi Laboratorium MIPA Pusat UNS. Biodeversitas vol.2 no.1